hujan rintik berderik
tetesan air kecil berbintik
awan hitam tertawa riang
hingga gelegar petir menyambar-nyambar
mencari arah berantah
menutupi kesedihan hati ini
terkapar di bawah langit
terhujam ribuan tetesan air
raga ini tak lagi mengenal sakit
kedinginan telah menjadi teman sepi
berdiri beranjak mananti sebuah hari
dimana tak lagi ada sepi dalam hati
Jumat, 07 Februari 2014
BERHARAP
ketika hati bertanya dimanakah tulang rusuknya
darah mengalir cepat
setiap nadinya terpenuhi butiran-butiran darah
badan menggigil tiada henti
berjalan mengarungi hari
tiada henti ku arungi semua ini
hitam telah menjadi kelabu
langit pun runtuh
puing-puingnya berserakan di atas tanah
semakin lama menjadi butiran kepedihan
tak berbekas tanpa jejak
hanyalah kenangan sendu yang menderu
merintih diatas derita diri
bernaung di bawah harapan
berharap datangnya rusuk yang hilang
darah mengalir cepat
setiap nadinya terpenuhi butiran-butiran darah
badan menggigil tiada henti
berjalan mengarungi hari
tiada henti ku arungi semua ini
hitam telah menjadi kelabu
langit pun runtuh
puing-puingnya berserakan di atas tanah
semakin lama menjadi butiran kepedihan
tak berbekas tanpa jejak
hanyalah kenangan sendu yang menderu
merintih diatas derita diri
bernaung di bawah harapan
berharap datangnya rusuk yang hilang
MEMORI ESOK
ketika senja pergi
bunga di taman kuncup kembali
warnanya pucat padam
layu tak berhawa
seakan menekuk wajahnya
menutup rapat harapan esok
harapan yang di harapkan terlihat
tak pernah berpikir dan menyimpan memori-memori yang telah di lalui
layaknya sinar terlahap oleh sang gelap
berlari menjauh dari takdir
mencoba menemukan jati diri yang sejati
berderak riat menahan diri
dari rasa benci dalam hati
bunga di taman kuncup kembali
warnanya pucat padam
layu tak berhawa
seakan menekuk wajahnya
menutup rapat harapan esok
harapan yang di harapkan terlihat
tak pernah berpikir dan menyimpan memori-memori yang telah di lalui
layaknya sinar terlahap oleh sang gelap
berlari menjauh dari takdir
mencoba menemukan jati diri yang sejati
berderak riat menahan diri
dari rasa benci dalam hati
PEDIH
kehidupan telah berikan hasil pedih
diukir dari ribuan cinta dalam jiwa
terhalang oleh besarnya ego
terkumpul menjadi kebesaran akan diri
sombong tak terungkiri
tersebar oleh hitamnya hati
menjulur panjang mengelilingi
merobohkan kokohnya susunan mozaik kepercayaan
terpisah diantara lara
nan jika terkena kau akan lumpuh tak berdaya
embun pun akan menjadi kerak
keras berbekas tak dapat terkelupas
semua hal seperti tidu
apa yang dirasakan hanyalah mimpi
diukir dari ribuan cinta dalam jiwa
terhalang oleh besarnya ego
terkumpul menjadi kebesaran akan diri
sombong tak terungkiri
tersebar oleh hitamnya hati
menjulur panjang mengelilingi
merobohkan kokohnya susunan mozaik kepercayaan
terpisah diantara lara
nan jika terkena kau akan lumpuh tak berdaya
embun pun akan menjadi kerak
keras berbekas tak dapat terkelupas
semua hal seperti tidu
apa yang dirasakan hanyalah mimpi
pemikiran sempit
dunia tak seindah yang dibayangkan
dalam benak berandai surga
realitas berkata bijak adanya
dunia menjadi surga?
memang ,tapi apa?
adanya hanya surga ditengah neraka
surga hanyalah sebesar butiran debu ditengah hamparan gurun
betapa sulit untuk mendapatkannya
meski telah memilah-milah diantara ribuan debu
sia-sia saja
berharap kemujuran
kemujuran yang berpihak pada insan pendosa
mereka mikir mudah
layaknya mengedipkan mata
betapa sempit pemikiran mereka
dalam benak berandai surga
realitas berkata bijak adanya
dunia menjadi surga?
memang ,tapi apa?
adanya hanya surga ditengah neraka
surga hanyalah sebesar butiran debu ditengah hamparan gurun
betapa sulit untuk mendapatkannya
meski telah memilah-milah diantara ribuan debu
sia-sia saja
berharap kemujuran
kemujuran yang berpihak pada insan pendosa
mereka mikir mudah
layaknya mengedipkan mata
betapa sempit pemikiran mereka
Langganan:
Postingan (Atom)