bergerak melawan arus
berbekal ayat-ayat yang diturunkan dari langit
bersenjatakan kegigian
berlindung dibawa naungan iman
beralan diatas pondasi mimpi
dunia yang dilihat tak sepenuhnya nyata
pemikiran manusia dipuja-puja
sepenuhnya semua tentang dunia
kepercayaan seakan menjadi faktor utama
menjerumuskan insan ke setiap klubang kebodohan
kenyataan adalah sebuah pernyataan publik
dinytakan oleh orang-orang yang tak dapat mengerti
hanya orang berkedudukan lah pemberi makna itu
roda keidupan tak berputar sepenuhnya
terkuasai oleh sang awan hitam
yang selalu diatas kehidupan meberikan kesengsaraan
Dunia Puisi
Rabu, 02 April 2014
Ilusi
dua unsur berbeda mengalir pasti
sala satu unsur mengalir tak semestinya
mencoba merubah arah
memaksa mencampurkan nasib
mengerakan pandangan
ilusi pun menyelubungi
angkara murka merata
hati nurani tak berharga
kepercayaan tak lagi berdiri
ketetapan hanyalah harta tak berguna
semua menjadi sia-sia
mimpi dan knyataan semua sama saa
tak ada bedanya dengan neraka
sihir mereka tela munguasai setiap iwa yang ada
mnyatu dengan darah
melekat pada setiap tulang penyangga
tertanam menjadi jiwa yang hilang
sala satu unsur mengalir tak semestinya
mencoba merubah arah
memaksa mencampurkan nasib
mengerakan pandangan
ilusi pun menyelubungi
angkara murka merata
hati nurani tak berharga
kepercayaan tak lagi berdiri
ketetapan hanyalah harta tak berguna
semua menjadi sia-sia
mimpi dan knyataan semua sama saa
tak ada bedanya dengan neraka
sihir mereka tela munguasai setiap iwa yang ada
mnyatu dengan darah
melekat pada setiap tulang penyangga
tertanam menjadi jiwa yang hilang
Sabtu, 08 Maret 2014
MUAK
seseorang kembali
membawa segenggam timah panas
yang membuat mentari tak sanggup tuk bersinar
harapan sirna
air mata tak berharga tumpah
batu kini menjadi abu
bunga tak akan bermekar
kepercayaan hanya ilusi
simpati hanya sebuah hal yang tak berharga
malaikat hanya berdiam melihat
tak selamanya malaikat terbang dengan sayapnya
ketika ia merelakan sayapnya demi sebuah dunia
ia tinggalkan langit
tapi dunia menenggelamkannya
tak mengenal, tak memahami, dan tak peduli
sampai kapan dunia seperti ini?
membawa segenggam timah panas
yang membuat mentari tak sanggup tuk bersinar
harapan sirna
air mata tak berharga tumpah
batu kini menjadi abu
bunga tak akan bermekar
kepercayaan hanya ilusi
simpati hanya sebuah hal yang tak berharga
malaikat hanya berdiam melihat
tak selamanya malaikat terbang dengan sayapnya
ketika ia merelakan sayapnya demi sebuah dunia
ia tinggalkan langit
tapi dunia menenggelamkannya
tak mengenal, tak memahami, dan tak peduli
sampai kapan dunia seperti ini?
Jumat, 07 Februari 2014
AWAN HITAM
hujan rintik berderik
tetesan air kecil berbintik
awan hitam tertawa riang
hingga gelegar petir menyambar-nyambar
mencari arah berantah
menutupi kesedihan hati ini
terkapar di bawah langit
terhujam ribuan tetesan air
raga ini tak lagi mengenal sakit
kedinginan telah menjadi teman sepi
berdiri beranjak mananti sebuah hari
dimana tak lagi ada sepi dalam hati
tetesan air kecil berbintik
awan hitam tertawa riang
hingga gelegar petir menyambar-nyambar
mencari arah berantah
menutupi kesedihan hati ini
terkapar di bawah langit
terhujam ribuan tetesan air
raga ini tak lagi mengenal sakit
kedinginan telah menjadi teman sepi
berdiri beranjak mananti sebuah hari
dimana tak lagi ada sepi dalam hati
BERHARAP
ketika hati bertanya dimanakah tulang rusuknya
darah mengalir cepat
setiap nadinya terpenuhi butiran-butiran darah
badan menggigil tiada henti
berjalan mengarungi hari
tiada henti ku arungi semua ini
hitam telah menjadi kelabu
langit pun runtuh
puing-puingnya berserakan di atas tanah
semakin lama menjadi butiran kepedihan
tak berbekas tanpa jejak
hanyalah kenangan sendu yang menderu
merintih diatas derita diri
bernaung di bawah harapan
berharap datangnya rusuk yang hilang
darah mengalir cepat
setiap nadinya terpenuhi butiran-butiran darah
badan menggigil tiada henti
berjalan mengarungi hari
tiada henti ku arungi semua ini
hitam telah menjadi kelabu
langit pun runtuh
puing-puingnya berserakan di atas tanah
semakin lama menjadi butiran kepedihan
tak berbekas tanpa jejak
hanyalah kenangan sendu yang menderu
merintih diatas derita diri
bernaung di bawah harapan
berharap datangnya rusuk yang hilang
MEMORI ESOK
ketika senja pergi
bunga di taman kuncup kembali
warnanya pucat padam
layu tak berhawa
seakan menekuk wajahnya
menutup rapat harapan esok
harapan yang di harapkan terlihat
tak pernah berpikir dan menyimpan memori-memori yang telah di lalui
layaknya sinar terlahap oleh sang gelap
berlari menjauh dari takdir
mencoba menemukan jati diri yang sejati
berderak riat menahan diri
dari rasa benci dalam hati
bunga di taman kuncup kembali
warnanya pucat padam
layu tak berhawa
seakan menekuk wajahnya
menutup rapat harapan esok
harapan yang di harapkan terlihat
tak pernah berpikir dan menyimpan memori-memori yang telah di lalui
layaknya sinar terlahap oleh sang gelap
berlari menjauh dari takdir
mencoba menemukan jati diri yang sejati
berderak riat menahan diri
dari rasa benci dalam hati
PEDIH
kehidupan telah berikan hasil pedih
diukir dari ribuan cinta dalam jiwa
terhalang oleh besarnya ego
terkumpul menjadi kebesaran akan diri
sombong tak terungkiri
tersebar oleh hitamnya hati
menjulur panjang mengelilingi
merobohkan kokohnya susunan mozaik kepercayaan
terpisah diantara lara
nan jika terkena kau akan lumpuh tak berdaya
embun pun akan menjadi kerak
keras berbekas tak dapat terkelupas
semua hal seperti tidu
apa yang dirasakan hanyalah mimpi
diukir dari ribuan cinta dalam jiwa
terhalang oleh besarnya ego
terkumpul menjadi kebesaran akan diri
sombong tak terungkiri
tersebar oleh hitamnya hati
menjulur panjang mengelilingi
merobohkan kokohnya susunan mozaik kepercayaan
terpisah diantara lara
nan jika terkena kau akan lumpuh tak berdaya
embun pun akan menjadi kerak
keras berbekas tak dapat terkelupas
semua hal seperti tidu
apa yang dirasakan hanyalah mimpi
Langganan:
Postingan (Atom)